Minggu, 21 Juli 2013

Catatan Akhir SMA

Kita Sahabat ?




          "Aku SMA ? Waaaaw 1 Aku udah jadi anak SMA !" kata Tria. Tria seakan tidak percaya bahwa dirinya kini telah menduduki bangku SMA. Rasanya waktu begitu terasa cepat berlalu, bahkan semua kenangan yang dialami Tria semasa TK, SD, dan SMP sampai dengan sekarang masih diingat olehnya. So, gimana rasanya ? Ya pasti sedih, bagaimana tidak, Tria secara tidak langsung terpaksa harus selalu beradaptasi mengikuti perkembangan lingkungan disekitarnya. Bahkan Tria mungkin masih tidak ingin berpisah dengan teman-temannya atau bisa dibilang sahabat yang baru ia temui seperti Dika, Radit, Sandy, Sam, Riri, dan masih banyak lagi. Tubuhnya yang kecil dan dengan tampang yang bisa dibilang imut bila dibandingkan dengan remaja seusianya membuat Tria selalu merasa bahwa dirinya merupakan anak Excel yang masih berusia 15 tahun kebawah padahal fakta yang sebenarnya Tria saat ini telah berusia 17 tahun.

          Banyak temannya yang bilang bahwa Tria merupakan anak yang supel, periang, baik hati, keren, dan cerdas. Tapi sadarkah kita bahwa setiap manusia biasa baik itu orangnya supel, periang, baik hati, keren, dan cerdas tentu saja pernah yang namanya merasakan kesal, sedih, kecewa, dan terkhianati ? Ini SMA kawan, bukan lagi dunia SD yang jika ada masalah langsung diselesaikan di TKP atau mungkin mengadukannya kepada kedua orang tua. Dunia SMA ini dipenuhi dengan intrik intrik tipu muslihat yang terkadang menyakitkan dan sulit untuk diterima serta diterjemahkan. Tapi tentu saja tidak terlalu sulit untuk dimengerti apabila ditelaah dan dihayati dengan menggunakan rasa kemanusiaan yang saling memaaafkan dengan kelembutan yang diiringi dengan cara berpikir yang dingin.

          Kembali kepada kenyataan yang ada, Tria sendiri telah memulai kehidupan barunya di dunia SMA, semua adalah teman, tapi tidak semua teman itu sahabat. Tidak terasa, 2 tahun telah berlalu semenjak langkah pertama Tria memasuki dunia SMA, ini berarti tinggal tersisa 1 tahun lagi bagi Tria untuk merasakan pahit serta manisnya dunia SMA. Seperti perkataan sebelumnya, dari semua teman yang Tria memiliki, diantaranya termasuk kedalam golongan yang Tria anggap sebagai "sahabat" diantaranya Sari, Zivana, Zahara, Cindy, Tara, Sello, Abel, Gilang, dan masih banyak lagi. Tapi saat ini hanya Gilang yang akan dideskripsikan oleh Tria di cerita singkatnya ini.

          Tria mengerti hidup ini tidak semudah membalikkan telapak tangan maupun seenak menghabiskan satu potong brownies, hidup ini berat, tapi tidak harus dikeluh kesahkan sendiri, itulah kenapa kita ditakdirkan untuk hidup sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain, membutuhkan untuk saling mengingatkan, membangkitkan, ataupun membantu kita. Hal tersebut juga dialami oleh Tria yang bertemu dengan Gilang hanya dimasa-masa SMA ini saja, dan baru kali ini ia bertemu dengan orang yang bisa dibilang baik. Tak jarang Tria merasa bahwa dirinya begitu jahat jika dibandingkan dengan GIlang. Apalagi jika GIlang sudah melakukan hal-hal yang bersifat kebaikan diatas ambang batas normal, terkadang Tria berfikit "masih ada juga ya orang baik kayak gini", tapi itu semua berlaku jika sifat jahatnya Gilang sedang tidak kambuh.

          Satu penyakit kambuhnya si Gilang, yaitu suka nyindir apabila sedang marah, entah apa salah si sindir sampai terlalu sering dimanfaatkan oleh Gilang. Tria yang bisa dibilang bersahabat dengan Gilang, yang bahkan sudah Tria anggap seperti kakaknya sendiri pun tak luput dari sindirannya. Sesekali sindirannya berasa sangat menyakitkan, tapi entah mengapa semuanya kembali terasa normal dan terhapus oleh lingkaran pikiran positif yang ada di dalam pikirannya Tria. Tapi lama kelamaan, Tria sendiri merasa bingung dengan hal tersebut, siapakah yang bersalah ? Mungkin ini bukan salah Gilang sepenuhnya, dan bisa saja sindiran yang biasa digunakan oleh Gilang dalam marah tersebut hanyalah sebuah kesalah pahaman semata ataupun bisa jadi karena perasaan Tria saja yang terlalu peka sehingga mudah terasa kesindir ?

          Tapi ? Gaya bicara, nada suara, tata bahasa, ekspresi muka, dan caranya menatap menjadi suatu ciri-ciri yang menandakan bahwa Gilang sendiri sedang menyindir seseorang. Dan jika itu terjadi, seorang "kakak" yang dikenal oleh Tria tadi seakan berubah menjadi orang yang paling menakutkan yang pernah Tria temui, hanya saja cara menatap Gilang yang begitu sinis tidak mampu mengalahkan tatapan sinis dari seseorang yang bernama "Dika" yang pernah membuat suatu kesan didalam kehidupan Tria.

          Terkadang Tria sendiri merasa bingung dengan ini semua, kadang jika GIlang menjadi baik, ia menjadi sangaaaat beiiiik dan menyentuh hati, tetapu jika sifat jahatnya sedang kambuh maka ia bisa menjadi orang yang sanggup merobek hati seseorang. Mungkin Gialng sendiri bisa disamakan dengan pisau yang bisa digunakan untuk kebaikan maupun kejahatan, atau dengan internet yang memiliki manfaat positif dan negatif. Yaya sepertinya Gilang sendiri bagaikan anak panah yang memiliki dua mata tajam, dimana salah satu sisi bisa menyembuhkan dengan kebaikannya yang begitu menyentuh hati dan disisi lainnya bisa melukai bahkan menghancurkan. Satu-satunya yang ditakuti Tria adalah apabila terlalu sering diobati dan terlalu sering dilukai, lama kelamaan akan meninggalkan bekas yang sangat terlihat jelas atau mungkin dapat menyebabkan mati rasa.

          Mungkin tak sepenuhnya Gilang yang salah, Tria juga sadar mungkin ia sendiri memang PHP (Pemberi Harapan Palsu) pada Gilang, ia ingin menjadikan GIlang sebagai sahabatnya, tapi rasanya begitu sulit bagi Tria untuk membuat Gilang mengerti apa yang Tria inginkan. Tria percaya bahwa Gilang adalah anak yang baik dan kelak akan mendapatkan pasangan yang baik pula. Karena seperti pepatah tua yang mengatakan bahwa "orang baik untuk orang baik, dan orang jahat untuk orang jahat". Sekarang semua kembali berjalan seperti biasa, ntah apa yang akan terjadi selanjutnya karena perjalanan cerita ini sendiri sampai sekarang masih berlanjut dan belum menemukan titik akhirnya...

Bersambung......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar